Information and Communication Technologi Clinic

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), begitulah terjemahan dari INFORMATION and COMUNICATION TECHNOLOGI (ICT). Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah deretan tiga suku kata yang saat ini lagi akrab dibibir orang, khususnya di lingkungan pendidikan atau kelompok birokrasi, bahkan belakangan ini, juga termasuk golongan-golongan masyarakat tertentu.

Memahami Teknologi informasi dan komunikasi, tidak hanya menyandarkan pada pengertian tiga suku kata di atas. Tetapi lebih dari itu harus dipahami lebih dalam, mengapa tiga suku kata itu harus dipadu menyadi satu kalimat yang tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran TIK. Itu mengartikan, bahwa tiga kata dasar itu, masing-masing memiliki nilai kekuatan dan pengaruh tersendiri dalam peradaban kehidupan manusia.

Sebagai bukti yang logis dari kekuatan-kekuatan itu, yakni disadari atau tidak, bahwa aktivitas yang sedang berlangsung dilakukan manusia saat ini, pada hakikatnya adalah mengelola informasi yang diterima sebelumnya. Disadari atau tidak pula, bahwa keberadaan informasi itu sendiri lahir karena adanya komunikasi. Demikian pula terhadap komunikasi, itu dapat terjadi karena tidak lepas dari media (teknologi) sebagai alat pengantar maksud dan tujuan.

Beranjak dari pengertian-pengertian di atas, maka ICT atau TIK yang menjadi medan garapan ilmu pengetahuan dari ICT CLINIC di SDN 1 Tilote adalah; Teknologi Informasi dan Komunikasi, BUKAN “Informasi Komunikasi dan Teknologi“. Hal ini cukup beralasan, karena informasi komunikasi dan teknologi, pengertiannya adalah informasi tentang komunikasi dan informasi tentang teknologi. Dengan demikian informasi komunikasi dan teknologi, hanyalah terbatas pada pengetahuan saja, dan bukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sifat dari informasi komunikasi dan teknologi, mudah ditemui atau diperoleh, hanya dengan cukup nonton televisi, dengar radio, maupun baca koran saja.

Sedangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah identik dengan ilmu pengetahuan. Yaitu teknologi tentang informasi dan teknologi tentang komunikasi. Karena itu pula, teknologi informasi dan komunikasi tidak terbatas pada pengetahuan saja, tetapi justru berada pada level garapan sebuah studi “ilmu pengetahuan”. Dengan sendirinya, untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi, tidak semudah kita nonton televisi, dengar radio, ataupun baca koran. Melainkan diperoleh hanya melalui teori dan praktek pendidikan tertentu saja.

Pada unsur kata Teknologi, Informasi, Komunikasi inilah, mengapa ICT Clinic harus dihadirkan ditengah-tengah para anak didik sekolah yang ada di SDN 1 Tilote. Dengan TIK ini, para anak didik akan diarahkan pada pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi yang berbudaya.

Pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi pada tingkat anak didik ini, dimaksudkan karena alasan dinamika dunia pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menuju pada suatu jenjang peradaban dunia pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, ICT Clinic khususnya di SDN 1 Tilote telah memiliki “TAKTIK”. Artinya; Tidak Ada Kehidupan yang baik (peradaban), tanpa menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Muhajirin AHM

Jumat, 01 Mei 2009

Berdikari (Dengan TIK Untuk) Bangkitkan Negeri

Oleh : Hemat Dwi Nuryanto

Saat ini, tidak ada langkah yang lebih penting selain menyiasati kekuatan globalisasi. Jika siasat itu gagal maka keterpurukan dan kepahitan segera menghampiri segenap perikehidupan suatu negeri. Resep jitu yang dikemukakan oleh Joseph E. Stiglitz, penerima Nobel bidang ekonomi, untuk mengatasi dampak negatif globalisasi ternyata bisa kandas begitu saja. Fenomena lonjakan harga komoditas dunia yang menyebabkan tingginya harga pangan akhir-akhir ini merupakan salah satu bukti bahwa pemimpin negara maju dan rezim ekonomi dunia masih mengabaikan resep Stiglitz. Padahal esensi dasar resep itu adalah menuju tata dunia yang lebih adil.

Untuk mengatasi dampak negatif globalisasi yang semakin mengganas, pemimpin negeri ini tidak cukup hanya berkirim surat berisi keluh kesah atau mengiba kepada lembaga dunia. Jika resep Stiglitz mulai tenggelam, masih ada resep warisan pendiri negeri ini yang bisa menjadi pegangan, yakni berdikari. Sayangnya, pemerintahan sekarang ini kurang memahami jiwa berdikari yang ditanamkan oleh Bung Karno bersama dengan koleganya tokoh Asia seperti Mahatma Gandhi dan Sun Yat Sen.

Pada saat itu, ada kesamaan visi berdikari di antara para pemimpin di atas. Sayangnya, jiwa berdikari bangsa Indonesia tidak pernah tuntas sepeninggal Bung Karno. Sedangkan bangsa Cina dan India sudah tuntas dan berbuah kebangkitkan negeri itu sehingga bisa mengejar ketertinggalannya dari negara maju. Rintisan berdikari oleh Mahatma Gandhi yang antara lain menggelorakan industri tradisional khadi atau alat pintal benang untuk kain pada zaman itu, pada hakikatnya adalah untuk menyiasati kekuatan globalisasi gelombang pertama atau imperialisme.

Dalam konteks kekinian, jiwa berdikari bisa diwujudkan dengan cepat apabila ada ekosistem yang baik untuk merekayasa budaya dan transformasi teknologi yang kompatibel dengan portofolio kompetensi. Transformasi itu, menurut konsultan internasional A.T. Kearney yang pernah membantu BJ Habibie dalam mengimplementasikan strategi transformasi teknologi dan industri, disebut Competency to Achieve Global Competitive Excellence. Strategi dimaksud, pada prinsipnya mengonsolidasikan dan mengoptimalkan kapasitas terpasang SDM teknologi di tanah air sehingga bisa terserap dalam proses nilai tambah secara ideal.

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa portofolio SDM teknologi di Indonesia dewasa ini mengalami proses involusi yang sangat serius. Banyak lulusan perguruan tinggi teknik di tanah air kesulitan mencari pekerjaan yang layak karena kebijakan impor telah menjadi panglima. Begitu pula SDM teknologi yang sudah eksis di lembaga pemerintah dan BUMN telah mengalami brain drain akibat salah urus dan minimnya anggaran negara.

Pengalaman penulis dalam proyek Sidina (Sistem Digital Terintegrasi Nusantara) untuk proses Re-engineering berbasis Advanced CAD/CAM/CAE Technology dalam rancang bangun Pesawat Jet N-2130, menunjukkan bahwa industri di Indonesia pada prinsipnya mampu melakukan dramatical improvement proses rancang/bangun dalam menghasilkan produk.

Sebagai gambaran, by design pesawat jet N-2130 dibangun untuk tidak sekadar setara namun juga dibuat untuk lebih unggul dibandingkan dengan proses rancang/bangun 777 dan 737 Next Generation. Hal itu dimungkinkan di antaranya karena kemampuan memadukan international best practices dan perkembangan teknologi terkini, seperti kemajuan teknologi solid modelling untuk mendukung digital mock-up berbasis CATIA V4 (pada saat itu Boeing masih menggunakan CATIA V3), intelligent computer aided design (I-CAD) untuk otomasi desain, integrated product data management (PDM Optegra), simulasi perilaku aerodinamika kecepatan transonik dengan MG Aero dan paralel komputer dengan 24 processor, dan lain-lain.

Meskipun Program Pengembangan Jet N2130 terhenti, sebenarnya apa yang tergambar dalam jagat mikro industri pesawat terbang di atas memberikan hikmah dan pencerahan kepada negeri ini bahwa sangat memungkinkan bagi kita untuk melakukan dramatical improvement dalam lingkup nasional untuk mengejar ketertinggalan.

Kajian A.T. Kearney dan gambaran jagat mikro industri pesawat terbang di atas melahirkan arti pentingnya konsolidasi portofolio kompetensi dan produk dalam negeri yang adaptif terhadap peluang dan tantangan Globalisasi 3.0. Dalam konteks itu pemerintah mestinya merangsang produk teknologi karya anak negeri yang sangat berguna untuk meningkatkan daya saing bangsa dan mampu mengefektifkan pengelolaan negara. Produk teknologi itu antara lain berupa sistem layanan eletronik seperti e-Goverment, e-Business, e-Demokrasi, e-Broadcasting, e-Procurement, e-Education, e-Health, dan lain-lain.

Contoh adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi Globalisasi 3.0 adalah India. Kita bisa menyimak postur SDM teknologi di India. Setiap tahunnya, institut dan universitas di India mencetak sekitar 350.000 lulusan teknik. Hebatnya, jumlah sebesar itu langsung terserap oleh pasar tenaga kerja dengan gaji yang menggiurkan. Hal itu dimungkinkan karena ekosistem berdikari di sana telah mengadaptasi kekuatan globalisasi yang disertai dengan rekayasa budaya yang tiada henti. Ekosistem itulah yang menyebabkan lapangan kerja di India semakin meluas. Hal itu terlihat dari 50% dari software GE dikembangkan di India. Perusahaan itu telah menggunakan dua puluh ribu orang di sana.

Hewlett-Packard juga mempekerjakan ribuan software engineer di India. Siemens mempekerjakan sekitar tiga ribu software engineer di India. Tak ketinggalan raksasa software aplikasi seperti Oracle juga punya lima ribu engineer di sana. Panen lapangan kerja di India akan terus terjadi karena adanya rekayasa budaya yang dilakukan oleh pemerintahan di sana. Berbagai nilai tradisi, kearifan lokal, karakter unggul, dan daya ungkit etos kerja terus ditransformasikan untuk menyiasati Globalisasi 3.0. Tak pelak lagi, pekerjaan apa pun di pasar-pasar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia dapat dikerjakan di India.

Pentingnya totalitas dari bangsa Indonesia untuk melakukan rekayasa budaya guna menumbuhkan karakter berlian dan etos kerja yang unggul. Jika rekayasa budaya bisa sinergi dengan transformasi teknologi yang berdaya saing, insya Allah kebangkitan negeri ini akan terwujud dalam waktu yang lebih singkat.

Menurut Schein, kebudayaan yang akan direkayasa berupa tiga elemen, yakni artifact, exposed values (nilai-nilai yang didukung), dan underlying assumptions (asumsi yang mendasari). Tiga elemen budaya itulah yang harus direkayasa agar negeri ini bisa berdikari. Elemen artifact menyentuh semua bidang dan segi kehidupan, termasuk produk teknologi, jasa, dan tingkah laku sebuah komunitas. Diperlukan rekayasa budaya yang melibatkan berbagai bidang keilmuwan dan lintas profesi. Rekayasa itu bisa dimulai dari segmen budaya korporasi. Apalagi pada saat ini banyak BUMN dan BUMD yang salah urus dan selalu merugi sepanjang zaman karena buruknya budaya korporasi.

Komunitas internasional pada saat ini menaruh perhatian besar terhadap rekayasa budaya. Berbagai riset tentang kebudayaan menjadi sangat penting. Salah satu hasil riset kebudayaan yang sempat menyedot perhatian dunia dilakukan oleh Geert Hofstede. Peneliti Belanda ini mempelajari ratusan ribu orang yang bekerja dalam puluhan negara yang berbeda. Riset tersebut mengkaji kecenderungan-kecenderungan dalam kebudayaan sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak absolut. Setiap budaya tertentu masuk dalam kuadran atau dimensi yang bisa direkayasa agar adaptif terhadap perkembangan zaman.

Penulis, CEO Zamrud Technology, penggerak IGOS, Alumnus Universitas Paul Sabatier Toulouse Prancis.
http://hdn.zamrudtechnology.com/

Kamis, 30 April 2009

Gender and ICT's

Teknologi baru yang digunakan dalam bidang informasi dan komunikasi, terutama Internet telah membawa dunia masuk ke era baru. Ada pandangan utama yang mengatakan bahwa teknologi seperti itu tidak memiliki keterlibatan secara sosial, hanya secara teknis saja. Perubahan positif yang disebabkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, yang notabene berdampak secara dramatis, tidak menyentuh umat manusia keseluruhan. Hubungan-hubungan kekuasaan yang telah ada dalam masyarakat menentukan tingkat penggunaaan dan pengambilan keuntungan dari (TIK), karenanya teknologi ini tidak bersifat netral secara gender. Pertanyaan penting : siapa yang mengambil keuntungan dari TIK? Siapa yang mendikte keberadaaan dari TIK? Apakah mungkin keberadaan TIK dijumpai sehari-hari supaya dapat melayani tujuan yang lebih luas dari persamaan dan keadilan? Fokus dari hal ini adalah isu gender dan persamaan hak wanita untuk mengakses, menggunakan dan membentuk TIK.


Akses untuk TIK yang baru masih merupakan kenyataan yang jauh bagi sebagian besar orang. Negara-negara bagian selatan, khususnya di daerah pedesaan, secara nyata tertinggal jauh dari revolusi informasi, ditandai dengan tidak adanya infrastuktur dasar, biaya yang tinggi untuk pengadaan TIK, ketidaktahuan mengenai TIK, dominasi dari bahasa Inggris dalam isi Internet – kurangnya demonstrasi keuntungan TIK untuk menjawab tantangan pembangunan level bawah. Penghalang-penghalang ini bahkan menjadi masalah yang lebih besar bagi kaum wanita, yang secara umum : buta huruf, tidak mengerti bahasa Inggris dan kurangnya kesempatan untuk mendapat pelatihan keterampilan komputer. Tanggung jawab domestik, pembatasan budaya untuk perpindahan, kurang kuatnya kekuatan ekonomi sejalan dengan kurangnya relevansi kepuasan dalam hidup mereka, lebih jauh membuat mereka termarginalisasi dari sektor informasi.


Bidang TIK ditandai dengan kontrol strategis yang dilakukan oleh perusahaan kuat dan oleh negara-negara kuat. Monopoli yang dibangun berdasarkan rejim kepemilikan intelektual, bertambahnya pengawasan Internet dan pengurangan keberadaan isi demokratisnya dan ekploitasi kaum lemah yang dilakukan imperialisme kapitalis, rasisme dan perbedaan gender (sexism). Dalam bidang TIK, wanita relatif memiliki kepemilikan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan, karena tidak terwakilkan dalam sektor privat dan pemerintahan yang mengontrol bidang ini.


TIK telah membawa keuntungan kepegawaian termasuk bagi wanita. Akan tetapi pemisahan gender yang direproduksi dalam ekonomi informasi di mana pria memegang mayoritas kaum yang memiliki keterampilan tinggi, menguasai pekerjaan yang bernilai tambah, di mana wanita terkonsentrasi pada pekerjaan keterampilan rendah dan bernilai rendah. Pekerjaan di call centre mengabadikan pekerjaan wanita dan organisasi dalam sektor teknologi informasi , seperti sektor lainnya, menghargai prilaku yang dikatakan maskulin.


Beberapa organisasi dan kelompok masyarakat mengikutsertakan isu yang berkaitan dengan demokrasi di bidang TIK – dari pembagian digital dan hak untuk berkomunikasi, sampai keragaman budaya dan hak kepemilikan intelektual. Pendukung persamaan gender telah didesak untuk memperhatikan dimensi gender masyarakat informasi : mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan dan strategi nasional TIK, menyediakan isi yang relevan bagi wanita, mempromosikan partisipasi ekonomi kaum wanita dalam ekonomi informasi, dan membuat aturan untuk melawan pornografi wanita dan anak-anak yang ada di Internet. The World Summit in the Information Society / Pertemuan Puncak Masyarakat Informasi Dunia (WSIS) yang dilakukan di Genewa pada bulan Desember 2003, membawa berbagai pelaku dalam bidang TIK untuk memperhatikan tantangan dan kemungkinan TIK , meskipun dengan berbagai hasil dan pandangan.


TIK juga telah digunakan oleh kebanyakan sebagai alat untuk transformasi sosial dan persamaan gender. Sebagai contoh :


1. E-Commerce (perdagangan yang dilakukan secara elektronik dengan bantuan Internet) merupakan langkah awal yang dicoba sekarang ini di berbagai tempat oleh NGO (Non Government Organization / Organisasi Non Pemerintah) untuk menghubungkan para wanita ahli secara langsung ke pasar global melalui Internet, dan juga mendukung aktivitas mereka dengan informasi produksi dan pasar


2. Program e-governance / pemerintahan melalui media elektronik telah dicoba oleh beberapa pemerintah menggunakan TIK untuk membuat pelayanan pemerintahan dapat lebih luas dijangkau oleh warga masyarakat. Dalam beberapa kasus disertai dengan strategi eksplisit untuk memastikan bahwa pelayanan ini menjangkau kaum wanita dan lainnya yang menghadapi halangan untuk mengakses layanan pemerintahan.


3. Para pendidik kesehatan telah menggunakan sarana radio untuk mengkomunikasikan informasi yang berhubungan dengan kesehatan seks dan reproduksi. Kemungkinan komunikasi melalui sarana Internet juga sedang digali.


4. Berbagi informasi dan dialog melalui sarana email, newsletter dan catatan online antara wanita dari belahan Utara dan Selatan dan di antara para wanita di bagian Selatan itu sendiri telah memungkinkan kolaborasi dan pemfokusan usaha dalam skala global untuk mendorong agenda dari persamaan gender.


Aktivitas-aktivitas tersebut telah sangat efektif di mana hal itu dapat dilakukan di atas isu keterbatasan akses dan infrasruktur untuk memandang konteks sosial yang lebih besar dan hubungan kekuasaan yang lebih besar. Tingkat efektivitas dan keterjangkauan telah diperkaya dengan kombinasi teknologi lama seperti radio dengan teknologi baru seperti Internet.


Perubahan yang lebih jauh bagi persamaan gender dan pemberdayaan wanita di bidang TIK sangat perlu menjangkau di semua level – internasional, nasional dan program. Persamaan gender di bidang TIK tidak selalu berarti penggunaan TIK yang lebih luas di kalangan wanita. Persamaan itu lebih ke arah transformasi sistem TIK. Hal ini melibatkan :


a. Pemerintahan yang membangun kebijakan TIK dengan perspektif gender yang kuat dan berkaitan dengan masyarakat sipil, gender dan ahli TIK.


b. Forum internasional seperti WSIS digunakan untuk menantang dominasi utara dan dominasi perusahaan di bidang TIK.


c. Strategi gender yang jelas dibangun melalui desain , implementasi dan evaluasi dari proyek dan program TIK


d. Pengumpulan informasi dengan statistik sex-disagregasi dan indikator gender berkaitan dengan akses, isi dan penggunaan TIK dalam hal kepegawaian dan pendidikan.


e. Pertimbangan isu gender dalam : kebijakan TIK/telekomunikasi, perwakilan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan telekomunikasi / TIK dan tingkat perbedaan dampak dari telekomunikasi / TIK antara pria dan wanita.


Untuk membuat semua ini terjadi, pendukung persamaan gender perlu terus menerus bekerja di bidang TIK dengan tiada lelah.


OV Assignment – English Indonesian translation on Gender and ICT’s

By Elisa Dean

Selasa, 28 April 2009

Tips Menghilangkan Rasa Malas

Malas, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia ini tertinggal dengan negara lain khususnya hubungannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh janganlah jauh-jauh dahulu ke Eropa, tapi yang dekat terlebih dahulu seperti Malaysia ataupun Singapura yang secara geografis luas negaranya maupun kekayaan alamnya jauh berbeda dengan Indonesia namun jauh berbeda pula dalam hal "manusianya", padahal dulu pelajar maupun guru-guru dari Malaysia datang ke Indonesia ini untuk belajar memperdalam ilmunya.

Malas bisa berarti banyak hal, malas belajar (umum terjadi pada pelajar) ataupun malas dalam lingkup yang universal yaitu malas dalam mengerjakan sesuatu Tapi memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik.

Malas itu bisa diibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Tapi ternyata kalau dilatih terus menerus dan teratur keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Nah..begitupun dengan malas, dengan cara teratur diikuti dengan kekonsistenan kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, rasa malas bisa di atasi dan bukan tak mungkin bisa berubah menjadi rajin.

Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.

Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Mengapa disebut penyakit mental? Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.

Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Berikut kiat-kiatnya:

Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.

Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.

Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya. Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik). Contoh komitmen; "pada ulang tahun yang ke .... saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, memiliki rumah dan mobil, umroh, naik haji, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga."

Mengasah Kemampuan
Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Contoh: jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.

Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.

Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.

Pergaulan Dinamis
Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.

Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.

Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self- motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.

Disiplin Diri
Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya; "Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita". Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal. Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja?

Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak bersahabat. Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya. Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran PHK. Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita.

Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.

Sumber : www.e-smartschool.com

Sip : Irvan Andi Wiranata

ICT Konsep Cerdas Atasi Kendala Koordinasi

PERKEMBANGAN komunikasi dan informasi dunia, sepertinya tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tak terkecuali pengaplikasian yang te­rus berkembang di bidang pendidikan.

Sebuah kerja sama niscaya tidak akan berkem­bang tanpa didukung dan diikuti pemanfaatan tek­nologi komunikasi yang semakin canggih. Sebuah keputusan yang terbilang strategis, jika pada event Rembuk Nasional Pendidikan 2007, di Sawangan, Depok Jawa Barat, kali itu Depdiknas mencoba tam­pil beda dengan memberi sentuhan dominan ter­hadap perkembangan nuansa information and com­munication technology (ICT), berbeda dengan pe­laksanaan di tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu stan dalam pameran Rembuk Nasio­nal Pendidikan 2007, misalnya, memamerkan ber­bagai program Pusat Teknologi Komunikasi dan In­formasi Pendidikan (Pustekkom) tentang ICT cent­er for education, seperti pendidikan jarak jauh (PJJ) dan televisi edukasi (TVE).

Kepala Pusat Informasi dan Humas Bambang Wasito Adi menuturkan kentalnya nuansa ICTpada rembuk kali itu sebenarnya kebutuhan yang tidak terpisahkan dalam pembangunan bidang pen­didikan di Indonesia ke depannya, kemarin. Ada­nya nuansa ICT juga diharapkan dapat menggu­gah para peserta yang merupakan penentu kebija­kan pendidikan di daerah, untuk menjadi basis pem­belajaran. “Jadi dengan dimunculkannya nuansa ICT pada event kali ini dapat menumbuhkan keterta­rikan daerah dan selanjutnya menerapkannya, baik sisi infrastruktur ataupun isinya.”

Pentingnya penerapan ICT dalam dunia pen­didikan juga telah disepakati Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara (SEAMEO) yang berkomitmen untuk membangun kerja sama di bidang pendidikan berdasarkan tiga prinsip ke­manfaatannya. Yakni menjalin silaturahmi dan iden­titas yang solid melalui pendidikan dan membangun kawasan yang kompetitif sebagai suatu entitas eko­nomi dan bisnis melalui pendidikan, serta untuk mempromosikan kemajemukan antarbangsa mela­lui pendidikan.

Untuk keperluan pendidikan tinggi, misalnya, ne­gara anggota SEAMEO juga akan terus mencip­takan sistem antarperguruan tinggi yang lebih ter­integrasi melalui ASEAN University Network (AUN) yang dibentuk 20 rektor dari perguruan tinggi top di negara-negara anggota SEAMEO.

Untuk negara kita diwakili Universitas Gadjah Ma­da dan Institut Teknologi Bandung yang bertemu satu tahun sekali untuk membentuk suatu jaringan yang terintegrasi dan kompetitif dengan jaringan perguruan tinggi di kawasan lain, seperti Asia Timur.

‘Pemanfaatan ICT akan menjadi wahana komunikasi antara guru dan siswa secara intens, mengasah potensi kreativitas siswa.’

Di sisi lain, SEAMEO juga sepakat untuk me­ngembangkan tiga prinsip pada bidang pendidikan dan akan bekerja sama dengan negara-negara Asia Timur lainnya, yakni terkait dengan pelatihan guru, pelatihan dan pembelajaran bahasa khususnya bahasa Inggris, pendidikan teknik dan kejuruan, serta penggunaan ICT dalam bidang pendidikan.

Bahkan, pentingnya pemanfaatan ICT saat ini ju­ga pernah dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mendorong pemanfaatan ICT khu­susnya di Asia Tenggara.

Dari segi evolusi pembelajaran, hal tersebut me­nandai adanya pergeseran peradaban manusia di bidang pendidikan, yakni dari hanya mengenal pen­sil dan kertas, kemudian berubah pada pengenal­an model pembelajaran yang lebih efektif, yakni menggunakan model pendidikan secara digital dan dapat diakses dari mana pun seseorang berada.

Dalam konteks pemanfaatan ICT dari aspek geo­grafis, diyakini dapat membantu kendala-kendala yang selama ini muncul. Sebagai ilustrasi, siswa dari suatu pulau bagian timur Indonesia dapat berinter­aksi dengan seorang guru di Pulau Jawa hanya de­ngan mengklik tombol yang disediakan ICT.

Artinya, pemanfaatan ICT mendatang akan lebih penting karena salah satu manfaat fasilitas itu akan menjadi wahana komunikasi yang luar biasa antara guru dan siswa secara intens, mengasah potensi kreativitas siswa, dan dapat menjadi model pem­belajaran efektif.

Hal itu tentunya akan menjadi modal pembangu­nan sekaligus modal sosial yang sangat krusial dan perlu dipupuk untuk peningkatan kualitas hidup ne­gara-negara anggota, tanpa adanya hambatan ge­ografis.

Gatot Hari Priowirjanto, Kepala Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri, mengatakan dalam ling­kup nasional, ICT yang diaplikasikan dalam Jardik­nas dan terhubung antara perguruan tinggi, kantor dinas pendidikan, sekolah, guru, dan dosen akan menghilangkan hambatan geografis.

Dengan adanya Jardiknas dan tersambung den­gan Jakarta, diharapkan daerah-daerah yang su­dah memiliki titik ICT, akan menjadi motor pengge­rak di wilayahnya.**

Sumber : MEDIA INDONESIA

http://pelayananpublik.com/